Indonesia Tetap Dukung Palestina

Indonesia Tetap Dukung Palestina

Indonesia Tetap Dukung Palestina, – Menteri Agama Fachrul Razi menegaskan bahwa sikap Indonesia untuk terus mendukung perjuangan rakyat Palestina. Penegasan ini disampaikan Menag saat berbicara pada Konferensi Internasional tentang Jerussalem yang digelar secara dalam jaringan, Senin malam.

Konferensi ini diikuti utusan dari sekitar 50 negara-negara mayoritas berpenduduk muslim di dunia. Keikutsertaan Indonesia dalam forum ini diwakili oleh Menag dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. Selaku Ketua Konferensi Jerussalem adalah Mahmud Al-Habbasy dari Palestina. Sebagai penghubung acara adalah Dubes Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun.

“Mewakili pemerintah Indonesia, kami menyampaikan bahwa bangsa Indonesia selalu dan tetap akan berdiri di belakang perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh hak sebagai negara dan bangsa merdeka, berdaulat, dan mandiri,” tegas Menag.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan posisi Indonesia terhadap Palestina masih tetap berpegang kepada Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan kesepakatan internasional. Sebagai tanggapan atas kesepakatan normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel.

Hal itu diutarakan Retno di Twitter setelah berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi. Pangeran Faisal Bin Farhan Al-Saud, ketika bertukar pandangan terkait masalah Palestina.

“Saya menggarisbawahi posisi Indonesia bahwa penyelesaian masalah Palestina-Israel harus berdasarkan pada Resolusi DK PBB yang relevan dan parameter yang disepakati secara internasional. Termasuk solusi dua negara,” tulis Retno di Twitter.

Sebagai negara demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Lanjut Menag, Indonesia menganut prinsip penegakan keadilan seluas-luasnya untuk semua warga bangsa di dunia. Tanpa memandang perbedaan agama, keyakinan, ras, suku, bahasa, warna kulit dan lain-lain.

Menurutnya, setiap bangsa memiliki hak penuh untuk merdeka. Bebas dari penjajahan yang membelenggu keinginan untuk maju dan berkembang dalam menentukan nasibnya sendiri.

Ia mengatakan, sejarah telah mencatat bahwa Jerussalem merupakan Kota yang penuh dengan berkah sekaligus banyak kepentingan dan silih berganti dalam penguasaan dari berbagai kekuatan di Timur Tengah yang sangat rumit.

Pada 13 Agustus lalu, Israel dan UEA sepakat melakukan normalisasi hubungan. Keduanya setuju menjalin hubungan diplomatik dalam perjanjian yang ditengahi Amerika Serikat.

Lewat kesepakatan itu, Israel juga setuju untuk menghentikan upaya aneksasi wilayah Palestina.

“Selama pertemuan dengan Presiden Trump dan Perdana Menteri Netanyahu, kesepakatan dicapai untuk menghentikan aneksasi Israel lebih lanjut atas wilayah Palestina,” tulis Putra Mahkota UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nayhan, dalam pertemuan tersebut, dicuitkan melalui akun Twitter.

Kecewa atas kesepakatan itu, Palestina lalu menarik duta besarnya di UEA sebagai bentuk protes.

Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad Al-Maliki mengatakan penarikan tersebut merupakan permintaan Presiden Mahmud Abbas.

Palestina dengan keras menolak kesepakatan itu dan menyebutnya sebagai “pengkhianatan” terhadap perjuangan mereka, termasuk klaim mereka atas Yerusalem sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *