Tag: FAISAL BASRI

Perbankan Terancam Terpuruk Imbas Kredit Macet

Perbankan Terancam Terpuruk Imbas Kredit Macet

Perbankan Terancam Terpuruk Imbas Kredit Macet, – Sektor perbankan dan lembaga keuangan terancam runtuh apabila dunia usaha makin lama terdampak COVID-19. Menurut ekonom senior Faisal Basri, hingga saat ini secara umum perbankan masih bisa mengatur aktivitas ekonomi.

“Tetapi perbankan akan kesulitan kalau makin banyak dunia usaha yang berkepanjangan terdampak COVID-19. Pendapatan turun, tidak bisa bayar kredit, tidak bisa bayar cicilan,” ujar Faisal dalam wawancara khusus bersama http://utowndc.com/, Selasa.

Kredit macet adalah suatu keadaan dimana debitur baik perorangan atau perusahaan tidak mampu membayar kredit bank tepat pada waktunya. Di dunia kartu kredit, kredit macet merupakan kredit bermasalah dimana pengguna kartu kredit tidak mampu membayar minimum pembayaran yang telah jatuh tempo lebih dari 3 bulan.

Kasus kredit macet akan meningkat bila banyak pelaku usaha terpuruk

Faisal melanjutkan, hal itu kian sulit manakala masyarakat menyimpan uang di bank dan pihak bank harus membayar bunga. Sementara, penyaluran kredit perbankan turun. Pendapatan bank semakin lama semakin tipis dan bisa merugi. Akibatnya, kasus kredit macet akan semakin tinggi.

“Karena ATM kan harus jalan semua, perangkat-perangkat teknologi juga harus on semua, tidak bisa istirahat dulu. Kalau sekarang kredit macetnya masih relatif terkendali, 3,11 persen naik dari 2,8 persen. Tapi ini datanya per Juni, karena data perbankan ini timeline-nya agak panjang,” ungkapnya.

Ekonomi tak bisa bangkit selama virus corona belum terkendali

Faisal mengatakan, Indonesia saat ini sedang memasuki fase krusial. Kasus COVID-19 setiap hari meningkat dengan kecepatan tinggi. Rata-rata kasus per hari mencapai angka 3.000-an. Sementara, angka kematian rata-rata sudah di atas 100.

“Tidak ada satu negara pun yang berhasil atau yang berani, kecuali beberapa negara saja, seperti Amerika Serikat yang berani melonggarkan pembatasan sosial tatkala kasus sedang tinggi-tingginya, sedang meningkat gitu. Jadi kita ini sedang mendaki, tapi kita disuruh lari kan ya tidak bisa. Ekonomi tidak bisa,” kata dia.

Masyarakat cenderung menahan belanja kendati pemerintah memberikan stimulus ekonomi

Untuk memulihkan ekonomi, kata Faisal, pemerintah mendorong masyarakat untuk belanja karena itu komponen terbesar di dalam PDB. Stimulus ekonomi diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bansos tunai, subsidi gaji bagi pegawai yang bergaji di bawah Rp5 juta, kartu prakerja, dan sebagainya.

Namun, lanjutnya, masyarakat cenderung menahan belanja lantaran bantuan itu tidak diberikan setiap bulan atau sepanjang tahun.

“Oleh karena itu, kalau coronanya masih lama, masyarakat berpikir ‘bahaya nih, saya harus berjaga-jaga lebih banyak’. Jadi buat berjaga-jaga, tabungan di bank naik. Dana pihak ketiga di bank naik, tetap konsisten 8 persen, sementara pertumbuhan kreditnya turun mencapai level terendah pada bulan Juni, hanya 1,5 persen. Oleh karena itulah, dunia perbankan secara keseluruhan tidak mengalami masalah likuiditas. Likuiditas tersedia, tapi tidak ada yang meminjamkan atau perbankan-nya hati-hati,” jelas Faisal.

Faisal Basri Bantah Jadi Influencer Pemerintah

Faisal Basri Bantah Jadi Influencer Pemerintah

Faisal Basri Bantah Jadi Influencer Pemerintah, – Ekonom Faisal Basri membantah dirinya menerima honor influencer dari Istana. Melalui akun Twitternya, Faisal meminta agar pihak yang berwenang mengklarifikasi hal tersebut.

“Saya tidak pernah diminta dan memperoleh honor untuk jadi influencer agar berkicau di twitter atau media sosial lainnya. Membicarakannya pun tidak pernah,” kata Faisal seperti dikutip di akun twitter @FaisalBasri, Sabtu.

“Mohon KSP (Kantor Staf Presiden) mengklarifikasi, khususnya DR Jaleswari,” lanjut dia.

1. KSP: Influencer adalah seorang independen yang memiliki pengaruh besar

Menanggapi cuitan Faisal tersebut, Jaleswari pun angkat bicara. Jaleswari mengaku memang sempat menyebut nama Faisal Basri saat membahas tentang influencer di Komisi II DPR RI. Ia menjelaskan bahwa influencer adalah sosok independen dan memiliki pengaruh besar di masyarakat.

“Dalam RDP di DPR itu saya menjelaskan perbedaan buzzer dan influencer yang ditanyakan anggota dewan ke KSP. Influencer adalah seseorang yang independen dan memiliki pengaruh bagi banyak orang. Dia bisa akademisi, pejabat publik maupun artis,” kata Jaleswari dalam akun Twitter-nya, @Jaleswari_P.

2. Influencer dihargai keahliannya, diberikan honor sesuai honor narsum yang berlaku

Jaleswari melanjutkan, apabila KSP mengundang influencer, maka undangannya adalah dalam kapasitas sebagai narasumber yang kredibel dan profesional di bidangnya.

“Kalaupun influencer dihargai keahliannya, itu sesuai honor narsum yang berlaku, secara transparan dan akuntabel. Namun banyak influencer yang tidak diberikan honor atau tidak mau terima honor melainkan kerja voluntarisme,” ucap Jaleswari.

3. Jaleswari meminta maaf kepada Faisal Basri

Dikutip dari http://coloradofarmers.org, Intinya, lanjut dia, influencer yang diundang oleh KSP adalah mereka yang memiliki kapasitas keilmuan, profesional di bidangnya, dan memiliki integritas yang dikenal publik. Karena, mereka dihargai sesuai kapasitas dan peraturan yang berlaku.

“Demikian penjelasan saya. Sekali lagi saya minta maaf kepada kawan baik saya, Mas Faisal Basri untuk ketidaknyamanan ini, karena menyebut namanya sebagai contoh baik dari influencer yang saya maksud. Tidak ada maksud buruk seperti yang dituduhkan beberapa pihak,” ungkap Jaleswari.

4. Jaleswari sebut KSP pernah menjadikan Faisal Basri sebagai influencer

Sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat KSP bersama Komisi II DPR RI, Deputi V Bidang Politik, Hukum, Keamanan dan HAM Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardani, mengaku KSP tidak pernah menggunakan buzzer, melainkan influencer.

Namun, penggunaan influencer itu guna menyampaikan kebijakan-kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Untuk biayanya sendiri, Jaleswari menyebut bahwa bujet atau anggarannya seperti biaya narasumber.

Influencer, kata dia, adalah tokoh yang berpengaruh di media sosial. Dia pun mengaku influencer pernah digunakan oleh KSP beberapa kali.

“Dalam konteks ini mungkin sekali KSP menggunakan dalam hal misalnya kami mendiskusikan isu-isu strategis, misalnya akademisi,” tutur Jaleswari dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi II DPR RI, yang disiarkan langsung di channel YouTube DPR RI, Kamis.

Jaleswari mengungkapkan bahwa salah satu influencer yang pernah digunakan oleh KSP yaitu Faisal Basri. Menurut dia, fungsi influencer itu sendiri untuk memberikan masukan kepada pemerintah terkait kebijakan-kebijakan yang ada.

“Kami perlu mendapatkan masukan-masukan terkait ekonomi dan sekaligus dalam percakapan, dalam diskusi itu kami juga menyampaikan program-program atau kebijakan-kebijakan presiden yang kemudian sesekali beliau menuliskan di Twitter-nya,” jelas Jaleswari.

Namun, untuk biayanya sendiri, Jaleswari mengatakan anggaran seperti biaya narasumber. Dia menyebut, selama ini Istana selalu transparan mengenai influencer.

“Tetapi pembayaran, tanda kutip pembayaran beliau sesuai dengan bujet narsum biasa,” kata Jaleswari

“Artinya, influencer ketika dipanggil ke kita itu lebih pada karakter narsum, bukan untuk seperti yang disampaikan ke media, bahwa kita meng-hire (rekrut) influencer dan buzzer,” ucapnya.